How do you feel as a pharmacist in public health center

 

Saya sudah hampir dua tahun terjun di pekerjaan sebagai Apoteker Praktisi puskesmas, dan ternyata bekerja sebagai seorang Apoteker Puskesmas tidak segampang kelihatannya. Laporan berbentuk bukti fisik yang lumayan banyak, belum lagi persiapan akreditas yang tak ada ujungnya karena setiap dua tahun harus dilakukan akreditasi, dan problem-problem lainnya yang hingga saat ini masih menjadi tantangan terberat saya untuk saya selesaikan.

Ya, saya salah; sempat meremehkan pekerjaan sebagai seorang Apoteker Puskesmas, dulu saya berpikir Apoteker Puskesmas itu gampang, ga perlu hafalin banyak obat seperti kerja di rumah sakit, kerjaanya itu-itu aja dan tentunya membosankan, but i'm wrong, lebih dari itu ternyata bekerja sebagai Apoteker Praktisi di Puskesmas tidaklah segampang nampaknya.

Saya mulai cerita ini dari awal pertama kali saya menginjakkan kaki di puskesmas tempat saya bekerja saat ini, saat-saat dimana saya mulai aktif bekerja, saya sudah mencatatan problem-problem yang musti saya selesaikan, mulai dari pencatatan, pelayanan sampai dengan pelaporan yang masih belum sesuai dengan peraturan yang berlaku, bukannya saya sok pintar dengan peraturan, tapi saya ingin peraturan itu di aplikasikan bukan sebagai pajangan kertas tak berarti, saya juga berprinsip harus ada perubahan yang lebih baik setelah saya bekerja disini.

tentu perjalan saya sebagai Apoteker Praktisi Puskesmas tidaklah mulus, banyak pertentangan dari banyak pihak termasuk dari satu unit kerja saya, maklum saya hadir sebagai orang baru dan langsung saja ingin mengubah kebiasaan mereka yang sudah mendarah daging. But saya tidak ingin menyerah begitu saja, jika saya gagal saya akan coba lagi, dan begitulah seterusnya.

di awal saya berasa single fighter di puskesmas, tapi saya tetap optimis, saya selalu berpikir; suatu saat kerja keras saya ini pasti akan membuahkan hasil.

Dan benar saja, setelah satu tahun disini akhirnya saya mempunyai kesempatan untuk unjuk gigi inovasi-inovasi yang saya terapkan di puskesmas ini, sebagai contoh inovasi KEBAB (KEaman oBat Anak dan iBu hamil, menyusui) dan inovasi MODUS (MOnitoring DalUarSa obat) yang mampu menarik perhatian Tim Survey Akreditasi Puskesmas saat itu dan cukup membuat puskesmas lain kagum dan sempat di meminta dokumen inovasi saya untuk di jadikan masukan di puskesmas mereka masing-masing.

Saya cukup bangga akan hal itu, tapi saya yakin ini bukan titik akhir perjuangan saya, di atas langit masih ada langit, begitupun dengan problem yang ada, tidak akan ada habisnya. Dan hingga saat ini saya tetap berjuang merubah semuanya, lebih-lebih mengubah budaya yang sudah mendarah daging dalam dunia kerja puskesmas.

Perjalanan saya hingga bisa mengeluarkan ide inovasi dalam bidang saya ini tentu tidak datang sendiri dan tidak instan begitu saja. tentu ide ini datang dari problem-problem yang saya temukan di Puskesmas ini, mungkin juga jika tidak ada akreditasi saat itu; saya juga tidak ada kesempatan menampilkan inovasi saya, mungkin saja akan tetap menjadi ide yang membusuk dalam pikiran.

Terkahir, jika ditanya bagaimana perasaan saya sebagai apoteker praktisi di puskesmas saya akan jawab sangat menantang dan saya suka!

Sekian,

0 Comments