Kritikan Keras untuk dokter Nazar


"Kami sangat berkepentingan, karena kami menulis resep kami perintahkan kepada apoteker serahkan obat yang menurut ini,"  ucap dr. H. N. Nazar, Sp. B, MH. dalam wawancara eksklusif yang di tayangkan TV One - Apa Kabar Indonesia.

didalam narasi cuplikan percakapan yang saya rangkum dari wawancara eksklusif yang ditayangkan TV One, dr. Nazar dengan gamblang mengucapkan bahwa resep adalah perintah dokter kepada apoteker. Haha... Boss sejak kapan resep adalah perintah dokter? resep bukan perintah boss, resep itu permintaan. Mari kita bahas.

Mari kita lihat literatur-literatur yang menguatkan argumen saya bahwa resep bukan sebuah perintah, tapi sebuah permintaan.


PMK nomor 73 2016 tentang standar pelayanan kefarmasian di Apotek.

Pada halaman 3 dalam putusan pasal satu poin 4, jelas-jelas resep di artikan sebagai permintaan tertulis dari dokter atau dokter gigi, kepada apoteker, baik dalam bentuk paper maupun electronic untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi pasien sesuai peraturan yang berlaku.

Keputusan Menteri Kesehatan No.1197/MENKES/SK/X/2004 

Sama hal nya di PMK 73 diatas, pada Keputusan Menteri Kesehatan No 1197 juga mendefinisikan bahwa resep adalah permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, dokter hewan kepada Apoteker, untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi pasien sesuai peraturan yang berlaku.

Mau lagi literatur yang lain? , coba cek saja Peraturan Menteri Kesehatan nomor 9 Tahun 2017 pasal 1 angka 10 dan peraturan-peraturan lainnya yang ga mungkin saya lampirkan. Yang jelas argumen resep adalah perintah seorang dokter adalah salah besar.

See, tidak ada yang namanya perintah boss, yang ada itu permintaan. Boleh ngegas ke orang yang ngaku-ngaku dirinya sebagai ahli mikrobiologi atau apalah, tapi ketika berargumen jangan ngasal. Kata perintah bagi saya agak kasar di lontarkan apalagi di anggap sebagai bagian dari sebuah definisi. Ingat, apoteker dan tenaga teknis kefarmasian bukan pembantu.


===

Sedikit sharing aja nih,
walaupun saya baru di dunia kerja (dua tahun berjalan). Sudah banyak sekali resep yang saya temukan tidak rasional baik secara administratif maupun farmasetik dan klinis yang kemudian saya tidak layani atau dengan kata lain harus dirubah kembali oleh si penulis resep.

Awalnya para penulis resep (di puskesmas kadang yang menulis resep bukan dokter saja tapi perawat maupun bidan) protes dan mungkin sebagian dari mereka merasa risih dengan keberadaan saya disini. Tapi dengan sedikit argumen dan pendekatan sosial, mereka akhirnya perlahan memahami hal tersebut. Mohon maaf saya agak tegas masalah ini. Ketika saya rasa ada kejanggalan yang saya temukan, ya saya protes (protesnya ga ngegas tapi elegan).

Intinya sih, ada peran serta apoteker disini, apoteker berperan untuk melihat rasional tidaknya pengobatan yang diberikan oleh penulis resep, ketika tidak rasional apoteker memberi saran dan selanjutnya disana muncullah sebuah diskusi antar apoteker dan penulis resep.

Jadi? Tolong kepada dr. H. N. Nazar, Sp. B, MH. Walaupun saya anak baru disini, tolong di atur dahulu narasi bicaranya. Boleh ngegas tapi jangan ngasal tanpa dasar.

Sekian.


1 Comments