Apoteker Ngamuk Soal UU Cipta Kerja?, maaf saya ga ikutan.

 



Apoteker lagi panas-panasnya nih, udah di PMK 03 2020 ndak di anggap dan malah di masukan ke pelayanan non medik, eh sekarang di UU Cipta Kerja malah kalah pamor dengan dukun dan paranormalšŸ¤­

Nasib-nasib,
Profesiku kok kayak gini banget ya.
Ada tapi tak kok teranggap. Hehe.

Banyak yang bertanya ke saya,
"Bang kenapa ga mau speak-up masalah UU Cipta Kerja, kan profesi kita lagi-lagi tak di anggap"
"Bang kamu Apoteker kan? Belain Profesimu apa, masak kalah pamor sama dukun dan paranormal, Keluarin argumenmu bang"

Maaf kali ini saya hanya bisa tersenyum lalu cuma bisa menjawab
"maaf, kali ini saya gamau komen"

Bukannya saya tidak mau membela profesi saya sendiri, terserah kalian bilang saya kok acuh sama nasib profesi Apoteker, terserah!

Mau gimana lagi,
jujur aja saya bingung mau berargumen pakai dasar hukum yang mana, UU Kefarmasian aja kita loh belum ada!, kemarin pas di PMK kita di masukkan ke pelayanan non medik organisasi resmi kita aja diem-diem aja kok! , sekarang mau ngelawan UU dan berharap di dengar?! Mimpi!

Lagian kalau organisasi kita aja kalem dengan anggotanya yang masih banyak yang tekab (Kerja tapi suratnya doang yang kerja, orangnya nggak) mah gausah tuh ngegas-ngegas minta di anggap UU Cipta Kerja, wong profesi kita mulai hancur karena yang kerjanya cuma titip SIPA terus makan gaji buta (Ups mohon maaf saya terlalu jujur, habisnya kesel sih saya nya).

Sekali lagi maaf nih, dengan sangat-sangat berat hati saya ga mau komen masalah UU Cipta Kerja ini, mungkin jika saya berargumen atas dasar saya tidak suka profesi saya di rendahkan, lalu argumen yang tunjukkan tanpa dasar hukum yang kuat, saya yakin yang mengerti hukum akan menertawakan argumen saya.

Udah itu aja dari saya,

Sekian,

#Slowaja
#gausahngegaskalaumasihtekab
#farmasitolonglahbersatusekaliinisaja