Dear Bapak Terawan

 



Dear Bapak Terawan yang terhormat
di Tempat,

Bagaimana kabar pak? Sehat? Sudah lama ya bapak menghilang dan tenggelam tanpa kabar semenjak argumen-argumen bapak saat menghadapi corona sangat kontroversial dan menjadi bully-an media seluruh indonesia, hehe

Bapak terawan,
Saya adalah Apoteker, bapak mungkin tidak mengenal dan tahu siapa saya, tapi saya tahu bapak, saat sebelum bapak menjabat Menteri Kesehatan saya adalah salah seorang yang mengagumi bapak karena keberanian bapak mengobati pasien stroke dengan cara bapak sendiri tanpa peduli izin bapak akan di copot IDI saat itu.

Bapak tahu kan Apoteker? Saya yakin bapak pasti tahu lah ya, apalagi jabatan bapak tidak main-main sebagai seorang Menteri Kesehatan sekarang, dan saya yakin bapak pasti paham betul tugas dan wewenang kami sebagai seorang Apoteker di semua lini pekerjaan, Apalagi sekarang bapak eksis mengeluarkan peraturan-peraturan yang berhubungan dengan pekerjaan kefarmasian.

Bapak terawan,
Jujur saja, saya akui dulu saya sangat mengagumi bapak karena bagi saya bapak adalah salah satu dokter yang out of the box, dan saat pak jokowi memilih bapak sebagai Menteri Kesehatan, saya langsung yakin bapak bisa membawa perubahan yang lebih baik bagi kesehatan di negara ini. 

Tapi sayang pak,
Setelah jabatan penting itu bapak dapatkan, bapak malah terlalu out of the box bagi saya pribadi ketika bapak berbicara, bertindak, dan mengeluarkan kebijakan-kebijakan. Termasuk kebijakan yang ada sangkut pautnya dengan Kefarmasian.

Jujur saja pak, saya tak lagi mengagumi bapak, jauh dari kata mengagumi saya malah menjadi kecewa. Jujur saja saya kecewa atas kebijakan-kebijakan bapak yang bapak keluarkan di tahun ini, seakan-akan bapak punya dendam tersendiri kepada kami para Apoteker.

Bapak terawan,
Bapak sadar tidak, kebijakan-kebijakan bapak yang bapak keluarkan akhir-akhir ini sangat memancing emosi sebagian besar kami para Apoteker.

Bapak terawan,
Mohon maaf pak dengan sangat saya terpaksa bilang, pemahaman bapak terhadap profesi kami masih kurang, hal ini terlihat dari kebijakan yang bapak keluarkan yakni kebijakan tentang klasifikasi dan perizinan rumah sakit (PMK 3 Tahun 2020), bapak lupa bahwa bahwa pelayanan kefarmasian itu ada statuta sendiri?, pelayanan kefarmasian itu bukan termasuk pelayanan medis, penunjang medis, ataupun pelayanan non medis pak, padahal tahu hal itu dan hal itu sudah jelas disebutkan dalam UU Nomor 36/2009 ttg kesehatan, UU Nomor 44/2009 ttg Rumah Sakit

aneh aja bagi saya pak, saat di konfirmasi, bapak dengan tenang menjawab "masak mau menjadi penunjang terus?" lalu menyuruh kami berdiskusi mau di masukkan kemana., Sungguh saya miris mendengar jawaban bapak yang seakan protesan kami tak bapak anggap serius saat itu.

Belum berakhir dengan kasus PMK 3 Tahun 2020 tentang klasifikasi dan perizinan Rumah Sakit yang kontroversial bagi beberapa profesi termasuk di dalamnya Apoteker, sekarang bapak malah mengeluarkan kebijakan PMK 26 Tahun 2020 yang merubah PMK 74 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas. Mohon maaf sekali lagi pak, kebijakan bapak yang baru ini lagi-lagi membuat saya kecewa dan berpikir; pemahaman bapak terhada profesi Apoteker saya rasa sangat-sangat kurang,

Jujur pak, kebijakan bapak ini melukai kami sebagai seorang Apoteker, kebijakan yang tadinya memberi masa tenggang waktu ke Puskesmas untuk melakukan rekrut Apoteker malah bapak hapus, mohon maaf pak, dengan penghapusan kebijakan tersebut akan ada banyak puskesmas yang dengan sengaja tidak membuka lowongan untuk Apoteker, dan Bapak tau apa yang akan terjadi? Saya sebut salah satunya adalah masalah Kerasionalan pengobatan, yang saya rasa akan jauh dari kata rasional. mohon maaf juga apabila bapak bilang berkelit; kami cuma fokus mengerjakan administrasi saja di puskesmas, iya kami akui kami mengerjakan itu, tapi bukan hanya itu saja pak, kami paham tanpa adanya administrasi yang kami kerjakan itu, puskesmas tempat kami bekerja tidak akan di anggap bekerja oleh dinas.

Mohon maaf saya bertanya lagi pak, rasa keingintahuan saya terlalu menggebu-gebu terhadap kebijakan bapak yang sangat kontrversial.

Apakah Bapak membuat kebijakan ini sudah turun langsung ke lapangan melihat dengan nyata kondisi di lapangan? 

Apakah bapak yakin Apoteker-apoteker yang jumlah lulusan tiap tahunnya ribuan tidak mau bekerja di Puskesmas? 

Apakah bapak yakin di Dinas Kesehatan seluruh Indonesia maupun pemerintahan bersih dari mafia-mafia yang dengan sengaja meniadakan lowongan Apoteker di Puskesmas karena mereka berpikir tak akan mampu membayar gaji seorang Apoteker? 

Apakah bapak sudah melakukan audit dan evaluasi upaya penerapan PMK sebelumnya? 

hehe... Saya yakin belum, Kalaupun bapak menjawab sudah dan bapak punya data untuk menjawab pertanyaan saya, saya rasa bapak belum benar-benar mengkroscek validitas data tersebut.

Bapak terawan,
Terakhir, Semoga bapak benar-benar sadar mengeluarkan kebijakan-kebijakan di tahun ini, semoga jauh dari kata sakit hati ataupun dendam pribadi terhadap profesi kami. Dan saya cuma mau bilang satu hal pak, kebijakan bapak perlu di lakukan kajian ulang (Judicial Review) sebelum di terapkan. Karena saya khawatir semakin kami biarkan, kebijakan bapak malah menyudutkan bahkan bisa menghapus keberadaan kami sebagai salah satu bagian terpenting dari Tenaga Kesehatan di negeri ini.

Terima kasih,
Salam hormat
Apoteker firman.